Showing posts with label tazkirah. Show all posts
Showing posts with label tazkirah. Show all posts

Tuesday, 25 October 2011

I love My Parents

I love My Parents

Having parents is one of the biggest gift  given to us by Al-Mighty Allah. Without us realizing, they have been and will always be our best friends; the ones who will always love and care for us no matter when or what happens, mashallah! If you still have your parents around, be thankful and keep giving your love to them! However, if your parents have gone back to Allah, do not be sad! Allah promises that the Believers will be reunited with their parents in Jannah (Paradise) later, inshallah. Here are some very basic ways for children to treat their parents:




1. The most essential duty of a Muslim child (no matter how young or old you are!) is to show kindness and respect towards his or her parents. This can be in a form of many things; from kind words to warm hugs! In fact, Allah has commanded us to be kind to our parents in Al Quran Al Karem, so it’s an important duty that must be taken seriously.

Related verses from the Quran:



Bismillaah ir rahman ir rahem

♦ “Your Lord has ordained that you must not worship none but Him, and that you must be kind to your parents” [Al-Isra 17:23]


♦ “And worship Allah and do not associate anything with Him and be good to the parents…” [An-Nisa 4:36]



♦ “We have advised the human being, ‘Be kind to your parents’” [Al-Ankabut 29:8] 
Related hadith:

• Narrated by Ibn Mas’ud (r.a): “I asked the Prophet (pbuh): What is the most beloved deed in sight of Allah, the Almighty?” He (pbuh) said: “Offering salat in due and prescribed time.” I then asked: “What is next?” He said: “Kindness to one’s parents.” I further asked: “What is next?” He (pbuh) said: “Jihad for the cause of Allah” [Al-Bukhari & Muslim]





2. Parents are to be treated like Kings and Queens; hence we as daughters or sons should always speak nicely and generously to our parents! And don’t forget to smile whenever you speak to them (yes, even if you’re on the phone! 


Related verse from the Quran:



Bismillaah ir rahman ir rahem

♦ “Whether one or both of them attain old age, do not express to them words which show your slightest disappointment. Never yell at them but always speak to them with kindness.” [Al-Muzzamil 73:4]




3. Give EXTRA love to your mama! Mothers deserve fine and awesome treatment, for they have borne the child’s burden during pregnancy, has undergone birth pains, sacrificed her own comfort to her children, so many others!


But this doesn’t mean you should ignore your fathers! They too, are super awesome, so both parents must be treated with much respect.



Related hadith: 



• Narrated by Abu Hurairah (r.a): “A person came to the Prophet (pbuh) and said: “Who among the people is most deserving of my fine treatment?” The Prophet (pbuh) said: “Your mother”. He asked again, “Then who?” The Prophet (pbuh) replied, “Your mother”. He asked again, “Then who (is the next one)?” The Prophet (pbuh) replied “Again, is it your mother” He (again) asked “Then who?” Thereupon the Prophet (pbuh) said, “Then it is your father” [Al-Bukhari & Muslims] 



4. Don’t wait for special occasions to show your appreciation towards your loving parents! There are many ways to show your appreciation to them; like giving flowers, free back massage, cards, cook their favorite food, and many many others (within your capability and creativity!) And remember, every time you do, do it with the right “niat”, and full with sincerity. In the end you’d just want to please Allah and make your parents feeling joyous :)



5. The best way to treat your parents is to continuously make dua’ for them! Make dua’ in your prayers or sujud, whenever you thinking or missing them, or even the times when they are in your presence. May Allah bless our beloved parents and grant them Paradise, amin!
“Rabbi-r-hamhumaa ka-mma rabbayaa ni sa-ii-ra”
Dua’ for parents in the Quran:

♦ “Be humble and merciful towards them and say, ‘Lord, bestow Your Mercy upon them as they cherished me in my childhood’” [Al-Isra 17:24] 



6. Whenever you feel like it, tell your parents without hesitation: “I LOVE YOU!” *heart*


Tuesday, 11 October 2011

Jenis-jenis hati




Rasulullah menyatakan, “Ada empat jenis hati, yaitu: hati yang bersih dan bercahaya yang di dalamnya bagaikan ada sebuah lampu yang menerangi, inilah hati orang-orang yang beriman; hati yang hitam dan sesat, adalah hati orang-orang yang ingkar; hati yang menggantung, yang melayang-layang antara keingkaran dan keimanan, merupakan hati munafik; dan hati yang bermuka dua, dengan satu wajah mengarah pada keimanan dan wajah yang lain mengarah kepada keingkaran. Keimanannya didukung oleh alam kesucian dan kesalehan, bagaikan sebuah tanaman yang dibersihkan dengan bantuan air, sedangkan keingkarannya didukung oleh alam kejahatan, bagaikan sebuah borok yang diperparah dengan luka bernanah. Akhimya, apa pun yang mendominasi dia akan mengendalikannya.”
Perbedaan antara keempat jenis hati ini terjadi karena hati merupakan produk dari ruh dan nafs, dan mendapat tarikan dari keduanya. Ruh ingin menarik nafs ke dalam lingkungannya dan begitu juga sebaliknya, dan keduanya senantiasa terlibat dalam peperangan. Kadang-kadang ruh mendominasi, yang membawa nafs keluar dari tempatnya yang rendah menuju ke tingkat perkembangan ruh yang lebih tinggi. Kadang-kadang nafs memenangkannya, yang membawa ruh jatuh dari ketinggian kesempurnaan menuju kepada kesalahan yang dalam. Hati selalu mengikuti bagian yang dominan sampai otonomi kehidupan seseorang digerakkan dalam salah satu tadi atau oleh yang lain, yang kemudian hati akan mendiaminya.
Situasi situasi itu melibatkan peralihan yang teratur antara kebahagiaan dan kesengsaraan. Jika kebahagian ukhrawi dan kepuasan azali tiba, ruh menjadi kuat dan mengalahkan nafs serta balatentaranya, dan terbebas dari pergulatan tersebut. Ruh naik dari titik ciptaan yang rendah menuju ke titik Keabadian yang tinggi, beralih menjauhi nafs dan hati menuju pada kesaksian (musyahadah) terhadap wilayah Yang Mahakuasa. Selain itu, hati dalam mengikuti perkembangannya dari tingkat perkembangan hati, yang padanya perubahan (taqallub) merupakan suatu keharusan, menuju ke tingkat perkembangan ruh dan mendiami tempat ruh berada, bagaikan seorang anak kecil yang mengikuti ayahnya.
Nafs, yang juga mengikuti hati seperti seorang anak kecil, muncul dari tempat dia berada, alam sifat-sifat kebendaan, dan mengikuti perkembangan hati. Hati yang seperti itu adalah hati orang orang beriman yang baginya tak ada lagi unsur unsur politeisme atau kekafiran. Allah melarang, jika situasi bertolak belakang dengan hal tadi, pengaruh-pengaruh penderitaan dan kesengsaraan azali didapatkan, yang bisa membuat ruh tersesat dan hanya akan memperkuat nafs. Hati akan menggerakkan ruh kepada alamnya sendiri; ruh akan turun dari tingkat perkembangannya ke tingkat perkembangan hati, hati akan berkembang dari tingkat perkembangannya ke wilayah nafs; dan nafs akan turun dan mengakar di dalam lingkungan sifat kebendaan. Hati yang seperti ini menjadi hati orang yang ingkar, yaitu orang yang sesat, yang tenggelam ke dalam gelapnya kekafiran. Jika tak ada bantuan dan tarikan sebagaimana adanya, dan dengan nafs yang kuat, hati akan terombang-ambing di tengah, tetapi lebih cenderung ke arah nafs. Inilah hati orang yang bersikap munafik. Jika ruh lebih kuat, atau jika tarikan dari ruh dan nafs sama, maka hati lebih cenderung ke arah ruh, atau bersikap netral berkenaan dengan kedua bagian itu, dan keimanan serta keingkaran tetap ada di dalanmya. Inilah hati yang bermuka dua, orang yang memiliki keimanan dan di sisi lain juga bersikap munafik.
Hatim Assam berkata, “Hati terdiri dari lima jenis, yaitu hati yang mati, hati yang sakit, hati yang lalai, hati yang tertutup dan hati yang bersih. Hati yang mati adalah hati yang ingkar, hati yang sakit adaIah hati yang senantiasa berbuat dosa, hati yang lalai adalah hati yang gagal, dan hati yang tertutup adalah hati orang orang yang senantiasa berbuat kejahatan: ‘Mereka berkata: Hati kami tertutup’ (11: 88), dan hati yang bersih adalah hati yang sadar dalam tindakan-tindakannya, disibukkan dengan ketaatan dan ketakutan terhadap Sang Raja Yang Mahakuasa.”
Sari Saqati berkata, “Lidahmu adalah penyambung dari hatimu, dan wajahmu adalah cerminan darinya. Pada wajahmu ditemukan apa yang ada di dalam hatimu.”
Ia juga berkata, “Ada tiga jenis hati, yaitu: hati seperti gunung yang tidak dapat bergerak; hati seperti pohon yang tertanam pada akarnya tetapi dapat bergoyang ke mana-mana karena angin; dan hati seperti seekor burung yang terbang ke mana saja yang dia inginkan.
Selanjutnya ia mengatakan, ” Hati orang yang berbudi berhubungan dengan ketegasan dan kedekatan pada Allah menuju pada kedudukan yang tinggi.” Inilah yang dikatakan bahwa kebaikan dari orang-orang yang berbakti adalah pegangan bagi kedekatan, dalam hal ini kebaikan menjadi pegangan apabila seseorang mendapatkan kepuasan melalui kebaikan tersebut, dan apa pun yang memberikan kepuasan diri akan menghambat perkembangan hati.
Orang-orang yang berbakti adalah mereka yang telah menempatkan dirinya di dalam surga, sebagaimana yang diperlihatkan dalam Al-Qur’an, Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan.” (LXXXII: 13). Oleh karena itu hatinya akan berhubungan dengan tujuan akhir. Sebaliknya, pandangan orang yang maju, mereka yang dekat kepada Allah, terpusat pada yang azali, yang tidak akan pernah menempatkan dirinya pada apa apa yang dapat mereka raih. Oleh sebab itu, karena tidak menempatkan dirinya pada apa pun, mereka akan tertarik ke dalam surga.

HIJAAB FOR WOMEN [Most Common Questions Asked By Non Muslims]

By Dr. Zakir Naik

Question:
Why does Islam degrade women by keeping them behind veil?

Answer:
The status of women in Islam is often the target of attacks in the secular media. The 'hijaab' or the Islamic dress is cited by many as an example of the 'subjugation' of women under Islamic law. Before we analyze the reasoning behind the religiously mandated 'hijaab', let us first study the status of women in societies before the advent of Islam.

1. In the past women were degraded and used as objects of lust.

The following examples from history amply illustrate the fact that the status of women in earlier civilizations was very low to the extent that they were denied basic human dignity:

  • Babylonian Civilization:
    • The women were degraded and were denied all rights under the Babylonian law. If a man murdered a woman, instead of him being punished, his wife was put to death.
  • Greek Civilization:
    • Greek Civilization is considered the most glorious of all ancient civilizations. Under the very "glorious"system, women were deprived of all rights and were looked down upon. In Greek mythology, an "imaginary women" called "Pandora" is the root cause of misfortune of human beings. The Greeks considered women to be subhuman and inferior to men. Though chastity of women was precious, and women were held in high esteem, the Greeks were later overwhelmed by ego and sexual perversions. Prostitution became a regular practice amongs all classes of Greek society.
  • Roman Civilization:
    • When Roman Civilization was at the zenith of its "glory", a man even had the right to take the life of his wife. Prostitution and nudity were common amongst the Romans.
  • Egyptian Civilization:
    • The Egyptian considered women evil ans as a sign of a devil.
  • Pre-Islamic Arabia:
    • Before Islam spread in Arabia, the Arabs looked down upon women and very often when a female child was born, she was buried alive.
2. Islam uplifted women and gave them equality and expects them to maintain their status.

Islam uplifted the status of women and granted them thier just right 1400 years ago. Islam expects women to maintain their status.

Hijaab for men
People usually only discuss 'hijaab' in the context of women. However, in the Glorious Quran, Allah SWT first mentions 'hijaab' for the men before 'hijaab' for the women. The Quran mentions in Surah Annur: 
"Say to the believing men that they should lower their gaze and guard their modesty: that will make for greater purity for them: and Allah is well acquainted with all that they do." (Al Quran 24: 30)
The moment a man looks at a woman and if any brazen or unashamed thought comes to his mind, he should lower his gaze.

Hijaab for women
The next verse of Surah Annur, says:
"And say to the believing women that they should lower their gaze and guard their modesty: that they should not display their beauty and ornaments expect what (must ordinarily) appear thereof; that they should draw veils over their bosoms and not display their beauty expect to their husbands, their fathers, their husbands' fathars, their sons..." (Al Quran 24: 31)

3. Six criteria for Hijaab.

According to the Quran and Sunnah there are basically six criteria for observing hijaab:

  • Extent:
    • The first criterion is the extent of the body that should be covered. This is different for men and women. The extent of conveying obligatory on the male is to cover the body at least from the navel to the knees. For women, the extent of covering obligatory is to cover the complete body except the face and the hands up to the wrist. If they wish to, they can cover even these parts of the body. Some scholars of Islam insist that the face and the hands are part of the obligatory extent of 'hijaab'. All the remaining five criteria are the same for men and women.
  • The clothes worn should be loose and should not reveal the figure.
  • The clothes worn should not be transparent such that one can see through them.
  • The clothes worn should not be so glamorous as to attract the opposite sex.
  • The clothes worn should not resemble that of the unbelievers i.e.theyshould not wear clothes that are specifically identities or symbols of the unbelievers's religions.
4. Hijaab includes conduct and behavior among other things.

Complete "hijaab", besides the six criteria of clothing, also includes the moral conduct, behaviour, attitude and intention of the individual. A person only fulfilling the criteria of 'hijaab' of the clothes is observing 'hijaab' in a limited sense. 'Hijaab' of the clothes should be accompanied by 'hijaab' of the eyes, 'hijaab' of the heart, 'hijaab' of thought and 'hijaab' of intention. It also includes the way a person walks, the way a person talks, the way he behaves, etc.

5. Hijaab prevents molestation

The reason why Hijaab is prescribed for women is mentioned in the Quran in the following verses of Surah Al Ahzab:
"o Prophet! Tell thy wives and daughters, and the beleiving women that they should cast their outer garments over their persons (when abroad): that is most convenient, that they should be known (as such) and not molested. And Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful." (Al Quran 33:59)
The Quran says that hijaab  has been prescribed for the women so that they are recognized as modest women and this will also prevent them from being molested.

6. Example of twin sisters
Suppose two sisters who are twins, and are equally beautiful, walk down the street. One of them is attired in the Islamic hijaab i.e. the complete body is covered, expect for the face and the hands up to the wrists. The other sister is wearing western clothes, a mini skirt or shorts. Just around the corner there is a hooligan or ruffian who is waiting for a catch, to tease a girl. Whom will he tease? The girl wearing the Islamic Hijaab or the girl wearing the skirt or the mini? Naturally he will tease the girl wearing the skirt or the mini. Such dresses are an indirect invitation to the opposite sex for teasing and molestation. The Quran rightly says that hijaab prevents women from being molested.

7. Capital punishment for the rapists
Under the Islamic shariah, a man convicted of having raped a woman, is given capital punishment. Many are astonished at this 'harsh' sentence. Some even say that Islam is a ruthless, barbaric religion! I have asked a simple question to hundreds of non-Muslim men. Suppose, God forbid, someone rapes your wife, your mother or your sister. You are made the judge and the rapist is brought in front of you. What punishment would you give him? All of them said they would pun him to death. Some went to the extent of saying they would torture him to death. To them I ask, if someone rapes your wife or your mother you want to put him to death. But if the same crime is commited to somebody else's wife or daughter you can say capital punishment is barbaric. Why should there be double standards?

8. Western society falsely claims to have uplifted women
Western talk of woman's liberalization is nothing but a disguised form of exploitation of her body, degradation of her soul, and deprivation of her honour. Western society claims to have "uplifted" women. On the contrary it has actually degraded them to the status of concubines, mistresses and society butterflies who are mere tools in the hands of pleasure seekers and sex marketeers, hidden behind the colourful screen of "art" and "culture".

9. USA has one of the highest rates of rape
United States of America is supposed to be one of the most advanced countries of the world. It also has one of the highest rates of rape in any country in the world. According to a FBI report, in the year 1990, every day on average 1756 cases of rape were committed in USA alone. Later another report said thaton an average everyday 1900 cases of rapes are committed in USA. The year was not mentioned. May be it was 1992 or 1993. May be the Americans got "bolder" in the following years.

Consider a scenario where the Islamic hijaab is followed in America. Whenever a man looks at a woman and any brazen or unashamed thought comes to his mind, he lowers his gaze. Every woman wears the Islamic hijaab, that is the complete body is covered except the face and the hands upto the wrist. After this if any man commits rape he is given capital punishment. I ask you, in such a scenario, will the rate of rape in America increase, will it remain the same, or will it decrease?

10. Implementation of Islamic Shariah will reduce the rate of rapes. Naturally as soon as Islamic Shariah is implemented positive results will be inevitable. If Islamic Shariah is implemented in any part of the world, whether it is America or Europe, society will breathe easier. Hijaab does not degrade a woman but uplifts a woman and protects her modesty and chastity.

Saturday, 8 October 2011

Nikah awal jalan terbaik.


Zaman sekarang adalah zaman yang sangat mencabar. 
Mencabar! Kerana setiap saat, setiap waktu, setiap hari, setiap detik, anak muda remaja dan belia kita dibom dari segenap penjuru dengan pelbagai bentuk godaan peluru berpandu yang membangkitkan naluri seksual masing-masing.
Biasalah apabila sudah baligh, umur meningkat, tiada godaan sekalipun, keinginan akan timbul juga secara automatiknya. Maka secara logiknya, pasti keinginan seksual itu boleh terangsang berpuluh lipat kali ganda dan berlaku pada tahap yang lebih awal lagi. Masalah pergaulan bebas sangat membimbangkan sehingga berlaku penzinaan.
Apakah jalan terbaik untuk selesaikan masalah ini?
Apakah jalan untuk selamatkan spiritual anak kita?
Apakah jalan terbaik untuk selamatkan masyarakat kita?
Tidak boleh hendak menyalahkan ibu bapa yang tidak boleh awasi mereka 24 jam, dan tidak boleh hendak menyalahkan anak muda semata kerana cabaran yang melampau sana sini.
Oleh yang demikian, beberapa langkah boleh diambil bagi meringankan kekusutan masalah ini.
Yang pertama, kahwin awal itu penting, kerana ia menjaga spiritual anak-anak kita dari dikotori.
Maka, masyarakat harus berusaha mencari jalan untuk membolehkan anak-anak muda ini kahwin awal untuk memastikan jiwa dan spiritual anak itu sentiasa bersih. Dan perkahwinan hanya satu-satunya jalan untuk memenuhi keinginan seksual secara sah dan diredhai Allah.
Dan Islam memang menggalakkan anak-anak muda itu supaya kahwin awal. Kerana Islam itu melihat jiwa anak-anak pasti akan terancam lebih-lebih lagi dengan godaan yang datang"attack" dari pelbagai arah dalam masa yang sama. Di dalam al-Quran, Allah berfirman:
"Dan kahwinkanlah orang-orang yang bujang di antara kamu. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka..." (24:32)
Memang benar anak muda diajar untuk berpuasa bagi menahan nafsu, menjaga pandangan dan sebagainya, tetapi sampai bila?
Bukan mudah untuk mengawal keinginan nafsu, dan mereka ini sentiasa berhadapan dengan godaan terus-menerus, setiap detik, setiap ketika, yang boleh mennyebabkan'nerve breakdown', jiwa tertekan, anak muda akan susah hendak memberi tumpuan dalam pembelajaran.
Akhirnya itu yang mencari jalan belakang, jalan senyap-senyap, jalan sembunyi untuk memenuhi keperluan semulajadi ini yang kita usaha untuk cuba elakkan.
Tetapi, hendak kahwin awal bukan senang. Ibu bapa mahu anak-anak habis belajar dahulu, selepas itu, matang pemikirannya, ada kedudukannya, hantaran RM15000-30000 (tepuk dahi), kemudian kewangan untuk anak-anak yang bakal lahir lagi. Maka kahwin awal itu seperti sesuatu yang rumit. Impossible!
Maka, di sini ada disenaraikan beberapa jalan untuk membantu anak-anak muda zaman sekarang kahwin awal:
1. "Kewangan support" dari ibu bapa yang mempunyai kewangan yang baik. Ibu bapa yang berkemampuan memang digalakkan supaya menyokong anak-anak ni supaya kahwin awal dan bantu yang mana perlu. Kalau Islam itu menggalakkan kita untuk menolong orang susah, orang miskin, apatah lagi menolong anak sendiri sehingga mereka boleh berdikari, pasti banyak dan melimpah-ruah lagi ganjarannya.
2. "Komuniti support" . Sekiranya kita mempunyai islamic organisasi yang menyediakan dana untuk menolong anak-anak ini kahwin awal. Mengikut sejarah , satu ketika seorang lelaki ditangkap dan dibawa ke Saidina Ali atas perlakuan yang tidak sopan. Selepas Ali memberikan hukuman yang sepatutnya, beliau mengahwinkan pemuda ini dengan menggunakan kewangan negara. Maka di sini Saidina Ali telah memberi contoh bagaimana masyarakat boleh menolong orang muda untuk berkahwin.
3."Perkahwinan tanpa beban kewangan". Iaitu si teruna dan dara itu bolehlah melaksanakan akad sahaja untuk menghalalkan hubungan. Tetapi mereka boleh tangguh dari membuat majlis perkahwinan yang menelan kos itu, mungkin selepas habis belajar, sudah bekerja, kemudian apabila duit sudah banyak, kita boleh meraikannya. Dan mereka ini dibenarkan saling berjumpa kerana mempunyai hubungan yang halal.
4. Mereka menjalankan akad dan majlis perkahwinan,tetapi tangguh juga dari menimang anak, dan hidup with "simple lifestyle". Maka dengan cara ni juga, mereka dapat memenuhi naluri masing-masing, dan dalam masa yang sama beban kewangan itu dapat dielakkan.
Ya...begitulah beberapa cadangan yang boleh dijadikan panduan tetapi diingatkan di sini, pengawasan ibu bapa, konsultasi dengan ibu bapa sangat-sangatlah penting dan kritikal dalam mengatur perkara ini.
Kami langsung tidak menyokong idea si teruna dan si dara buat keputusan sendiri tanpa"input" dari ibu bapa, dan tanpa mendapat restu hubungan mereka. Ini adalah penting untuk melindungi reputasi pihak perempuan terutamanya jika perkara yang tidak dijangka berlaku. Ibu bapa mainkan peranan yang sangat penting.
Sekiranya kita khusus untuk ibu bapa mengharapkan anak-anak ni supaya kewangan mereka"steady" dahulu selepas itu baru boleh berkahwin, mereka akan mengambil masa yang lama dan berkemungkinan dalam tempoh itu akan berlaku perkara yang tidak diingini.
Maka, apabila kita memahami perspektif dari sudut pandangan Islam yang menggalakkan perkahwinan awal, maka kita boleh lihat bukan perkara mustahil bagi pelajar-pelajar, untuk berkahwin dan dalam masa yang sama meneruskan pelajaran mereka, tinggal bersama di rumah ibu bapa, atau satu bilik yang disewa di universiti. Mereka boleh teruskan kehidupan yang sama mudahnya sepertimana kehidupan mereka sebagai pelajar.
Kahwin awal itu memang digalakkan, tetapi mental dan emosional, ilmu perlu diperlengkapkan supaya masing-masing menyedari tanggungjawab dalam kehidupan berumahtangga. TAQWA, mesti penuh di dada, barulah rumah tangga itu bercahaya.

Sunday, 7 August 2011

Transformasi Ramadhan


Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Alhamdulillah ramadhan kali ini masih lagi menjadi milik kita, banyak banyak kesyukuran kehadrat Allah S.W.T kerana DIAlah yang memberi izin untuk kita sekali lagi sampai di bulan yang mulia ini. Kalau kita hitung kembali , siapalah kita untuk Allah jemput sebagai "tetamu"Nya di bulan yang menjanjikan pelbagai hikmah untuk direbut.



Ramadhan Bukan Masa Bermalas-malasan.

Tahukah kalian, suatu ketika ketibaan ramadan sinonim dengan kegemilangan umat. Ramadan mencatat kemenangan di medan Badar dan pembebasan Kota Makkah. Ramadan juga mengiringi ketibaan Islam di bumi Andalus. Ramadan mewarnai kejayaan Salahuddin al-Ayyubi membebaskan al-Masjid al_Aqsa daripada cengkaman Tentera Salib. Malah ramadan juga menyaksikan kejayaan Saifuddin Qutz menumpaskan kemaraan Moghul di medan 'Ain Jalut.
Nah, demikianlah ramadan dan kejayaan silamnya. Apa masih Muslim kini dan ramadan punya hubungan gilang gemilang itu? Masihkah ramadhan itu suatu latihan dan proses Rabbani, atau hanya adat semata ? Ukur pada situasi hari ini, umat Islam boleh merenung betapa kita jauh ketinggalan berbanding apa yang pernah dikecapi umat Islam dahulu.






Ramadan Mengejar Takwa.

"Wahai orang-orang yang beriman, puasa telah diwajibkan ke atas kamu sebagaiman ia telah diwajibkan ke atas generasi sebelum kamu, mudah-mudahan (dengan puasa itu) kamu bertakwa" (Al-Baqarah 2:183)
Sayangnya Allah kepada kita, diberikan-Nya satu bulan dalam setahun, untuk kita belajar mencapai TAKWA. Bekalan untuk kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
Apakah yang diajar oleh puasa, agar meningkatkan nilai takwa?
Tidak makan kerana tiada makanan, itu bukan pelajaran.
Tidak minum kerana tiada minuman, itu bukan latihan.
Ketika kita ada segalanya untuk dimakan, kita memilih untuk tidak makan kerana mentaati Allah. Itulah latihan. Ia adalah latihan untuk berkata tidak kepada sesetengah kemahuan diri, supaya kita dapat tingakatkan daya kawalan diri!
Itulah TAKWA, kawalan kehendak-kehendak sendiri untuk selamatkan diri dari terjerumus kepada hasutan nafsu mahupun bisikan syaitan kerana TAKUT kepada perintah Allah.


Tawaran Hebat. Apa Tunggu Lagi.

"Buy one free one" ? promosi untuk menambat hati si pembeli menjelang raya ini. Tapi pernahkah anda jumpa tawaran sehebat buy "one free 70"? beli satu ipad percuma 70???? lebih hebat lagi ada satu hari istimewa anda bole mendapat sehingga 1000 !! di mana segala macam road block sudah dikenakan terhadap "pesaing" lain untuk memberi kemudahan kepada anda untuk sampai ke pasar raya tersebut.
Tiba-tiba anda hanya buat tak tahu,melangut terus-terusan melayan FB, menonton rancangan hiburan , membutakan mata dan memekakkan telinga daripada mendengar dan melihat kegahirahan orang lain berjalan, berlari mungkin sampai merangkak untuk ke pasar raya berkenaan.
Maknanya anda memang tidak ada hati dengan apa yang ditawarkan. Tak ada hati langsung !!
Bukankah Allah sudah menjanjikan dengan berbagai hikmah dan pahala yang berlipat-lipat kali ganda di bulan mulia ini, dipermudahkan pula dengan tertambatnya syaitan.
Tiba-tiba buat tidak tahu sahaja. Tidak teringin menambah amal , tidak tergerak meninggalkan dosa. Dosa, pahala, syurga, neraka, memang tidak menarik langsung perhatiannya.
Maknanya orang yang tidak mempedulikan Ramadhan, tidak ingin langsung dengan apa-apa yang ada di sisi Tuhan. Tidak peduli dan langsung tidak mengambil tahu. Sungguh orang seperti ini tiada kene-mengena dengan Allah.


  "Jibril datang kepadaku dan berkata, "Wahai Muhammad, siapa yang menjumpai bulan Ramadan, namun setelah bulan itu habis dan tidak mendapat ampunan, maka jika mati masuk neraka. Semoga Allah menjauhkannya. Katakan : Amin ! Aku pun mengatakan: Amin!" (Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam sahihnya)


Ingatlah peluang bertemu "pesta ibadah" ini tiada siapa yang mampu menjamin untuk kita bertemu di tahun-tahun berikutnya. Masa lalu telah berlalu, masa hadapan tidak pasti kesampaian. Dan masa sekarang yang ada di tangan kita, masih ada hari yang berbaki yang tentunya tidak pula akan menunggu kita.
Apakah ada masa berlengah?















Credit to buku Transformasi Ramadan-Ustaz Hasrizal Abdul Jamil.